Wawasan Mamuju – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mengingatkan pemerintah daerah agar mengantisipasi potensi inflasi pada akhir tahun, khususnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Peningkatan aktivitas masyarakat serta lonjakan permintaan barang dan jasa dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga di sejumlah komoditas strategis.
Peringatan tersebut disampaikan sebagai upaya mitigasi agar stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga hingga penutupan tahun berjalan.
Tren Inflasi Akhir Tahun Perlu Diwaspadai
BPS Sulbar mencatat bahwa setiap memasuki akhir tahun, kecenderungan inflasi biasanya dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga. Komoditas bahan pangan, transportasi, serta kebutuhan pokok lainnya kerap menjadi penyumbang utama tekanan inflasi.
Kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini agar lonjakan harga tidak terjadi secara signifikan dan berlarut-larut, terutama di wilayah dengan distribusi logistik yang masih menghadapi tantangan.
Komoditas Pangan Jadi Faktor Dominan
Sektor pangan menjadi salah satu faktor yang paling rentan memicu inflasi akhir tahun. Kenaikan permintaan terhadap beras, cabai, bawang, daging ayam, telur, serta bahan pokok lainnya berpotensi mendorong kenaikan harga di pasar.
BPS Sulbar menilai, pengendalian pasokan dan kelancaran distribusi menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas harga pangan, khususnya di kabupaten-kabupaten yang memiliki ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Transportasi dan Energi Ikut Berpengaruh
Selain pangan, sektor transportasi juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap inflasi akhir tahun. Peningkatan mobilitas masyarakat, terutama selama libur panjang, dapat berdampak pada kenaikan tarif angkutan dan biaya logistik.
Di sisi lain, ketersediaan dan stabilitas harga energi seperti BBM dan LPG juga menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Baca juga: RSUD Mamuju Resmi Jadi Rujukan Penanganan Stunting
Peran Aktif Pemda dalam Pengendalian Inflasi
BPS Sulbar mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret dalam mengendalikan inflasi. Di antaranya melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemantauan harga secara rutin di pasar, serta intervensi pasar apabila diperlukan.
Langkah-langkah seperti operasi pasar murah, penguatan cadangan pangan daerah, dan kerja sama antardaerah dinilai efektif untuk menekan gejolak harga.
Pentingnya Data sebagai Dasar Kebijakan
BPS menekankan pentingnya pemanfaatan data statistik sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan pengendalian inflasi. Data harga dan inflasi yang akurat dapat membantu pemerintah daerah dalam mengambil keputusan yang tepat dan responsif terhadap kondisi di lapangan.
Dengan perencanaan berbasis data, intervensi yang dilakukan diharapkan lebih tepat sasaran dan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi daerah.
Jaga Daya Beli Masyarakat
Pengendalian inflasi akhir tahun menjadi krusial untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Lonjakan harga yang tidak terkendali berpotensi menekan konsumsi rumah tangga dan memperlemah pertumbuhan ekonomi daerah.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, instansi vertikal, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga.
Harapan Stabilitas Hingga Akhir Tahun
BPS Sulbar berharap, dengan langkah antisipatif dan koordinasi yang solid, inflasi di Sulawesi Barat dapat tetap terkendali hingga akhir tahun. Stabilitas harga diharapkan mampu menciptakan iklim ekonomi yang kondusif, sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat.
Peringatan ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi dinamika ekonomi, khususnya pada periode akhir tahun yang rawan tekanan inflasi.







