Wawasan Mamuju – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Mamuju terus memperkuat pembinaan bagi warga binaan, khususnya melalui program kemandirian yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan dan kesiapan mereka saat kembali ke masyarakat. Program ini menjadi komitmen Lapas dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya bersifat pengawasan, tetapi juga memberi bekal kemampuan ekonomi.
Fokus pada Pembinaan yang Produktif
Kepala Lapas Perempuan Mamuju menjelaskan bahwa pembinaan kemandirian merupakan salah satu pilar utama dalam sistem pemasyarakatan. Tujuannya agar warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga memperoleh keahlian yang dapat digunakan setelah bebas.
“Kami ingin memastikan warga binaan perempuan di sini memiliki bekal nyata. Mereka harus mampu berdiri sendiri, produktif, dan percaya diri saat kembali ke tengah keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Program ini meliputi pelatihan berbagai keterampilan, mulai dari tata boga, kerajinan tangan, menjahit, hingga pembuatan produk rumahan seperti sabun dan kue kering.
Pelatihan Disesuaikan dengan Minat dan Potensi
Salah satu pendekatan yang digunakan Lapas adalah memberikan pelatihan sesuai minat masing-masing warga binaan. Dengan begitu, mereka dapat mengikuti pelatihan dengan semangat serta dapat mengembangkan keahlian secara maksimal.
Instruktur pelatihan dari mitra Lapas menjelaskan bahwa metode yang digunakan bukan hanya mengajarkan teknik dasar, tetapi juga manajemen usaha sederhana—mulai dari cara menghitung modal, strategi penjualan, hingga pemasaran produk.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar bisa membuat produk, tetapi mampu mengelola usaha kecil-kecilan setelah mereka bebas,” jelasnya.

Baca juga: Sebanyak 699 Siswa Sulbar Ikuti TKA Susulan November
Produksi Warga Binaan Mulai Diminati
Hasil pelatihan dan kegiatan produksi warga binaan kini mulai mendapatkan perhatian dari masyarakat. Sejumlah produk kerajinan dan kuliner yang dihasilkan warga binaan Lapas Perempuan Mamuju telah dipasarkan di beberapa kegiatan internal maupun pameran.
Tidak sedikit pengunjung yang memberikan apresiasi terhadap kualitas produk tersebut. Hal ini menjadi motivasi tambahan bagi warga binaan untuk terus mengasah kemampuan.
Upaya Dukungan Psikologis dan Mental
Selain bekal keterampilan teknis, pembinaan mental juga menjadi bagian penting dalam program kemandirian. Lapas secara rutin menghadirkan konselor, motivator, dan kegiatan pembinaan rohani untuk memperkuat mental serta kepercayaan diri warga binaan.
“Kemandirian itu tidak hanya urusan ekonomi, tetapi juga mentalitas. Mereka harus siap memulai hidup baru tanpa stigma dan tanpa merasa rendah diri,” ujar salah satu pembina.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Para warga binaan mengaku terbantu dengan adanya program ini. Selain mengisi waktu dengan kegiatan positif, mereka merasa lebih siap menghadapi kehidupan setelah menjalani hukuman.
“Saya baru tahu ternyata saya bisa membuat banyak hal. Saya merasa lebih percaya diri untuk nanti kembali ke rumah,” ungkap salah satu warga binaan.
Komitmen Lapas Hadirkan Pembinaan Berkelanjutan
Lapas Perempuan Mamuju memastikan pembinaan kemandirian akan terus diperkuat dengan menggandeng lebih banyak instansi dan lembaga pelatihan. Tujuannya agar ragam keahlian yang diajarkan semakin luas dan peluang usaha bagi warga binaan semakin terbuka.
“Kami berharap, saat mereka selesai menjalani masa pidana, mereka tidak kembali ke lingkungan yang membuat mereka tersandung lagi. Dengan keterampilan ini, mereka punya peluang untuk hidup lebih baik,” tegas pihak Lapas.






